Secara global, lebih dari separuh pengguna aktif ChatGPT berbayar kini berasal dari luar negara berbahasa Inggris. Pertumbuhan pengguna juga paling pesat terjadi di Afrika dan Asia. Di Indonesia, penggunaan AI generatif setiap hari masih belum banyak dilakukan oleh karyawan. Padahal, mereka yang rutin menggunakannya cenderung bekerja lebih produktif dan lebih optimis terhadap kariernya. Sayangnya, akses pelatihan AI yang belum merata serta perbedaan pandangan antara manajemen dan karyawan masih menjadi hambatan dalam penerapan AI di dunia kerja.
Adopsi AI kini tidak lagi terbatas pada pengguna di negara maju. Mayoritas pengguna aktif ChatGPT justru berasal dari luar dunia berbahasa Inggris dan tersebar di berbagai wilayah. Laporan terbaru OpenAI menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT terus meluas ke lebih banyak negara dan bahasa dari waktu ke waktu.
Tren serupa juga terlihat di dunia kerja. Pekerja yang sudah menggunakan AI untuk mendukung produktivitas dan membuka peluang karier baru. Survei PwC Indonesia dan riset World Economic Forum sama‑sama menegaskan bahwa adopsi harian masih terbatas dan kesenjangan akses pelatihan terus terjadi di banyak perusahaan.
Baca juga: Google Merilis Panduan Optimasi Website Agar Muncul AI Search
Kenapa Pengguna ChatGPT Makin Aktif?
OpenAI punya program riset internal bernama Signals yang memantau perilaku pengguna paket individu ChatGPT dari waktu ke waktu. Data mereka menunjukkan bahwa seiring waktu, pengguna cenderung mengirim lebih banyak pesan per hari dan mencoba lebih banyak jenis tugas dibandingkan saat pertama kali bergabung.
Dengan kata lain, orang tidak berhenti pada satu atau dua kegunaan saja. Semakin lama memakai ChatGPT, semakin banyak hal baru yang mereka eksplorasi, mulai dari pekerjaan sampai kebutuhan personal.
Bahasa Apa yang Sekarang Mendominasi?
Salah satu perubahan paling signifikan terjadi pada komposisi bahasa pengguna. OpenAI juga mencatat bahwa untuk pertama kalinya, lebih dari separuh pengguna aktif ChatGPT yang berlangganan paket konsumen kini menggunakan bahasa selain bahasa Inggris sebagai bahasa utama.
Artinya, asumsi bahwa pengguna AI mayoritas berbahasa Inggris sudah tidak relevan. Hal ini karena basis penggunanya kini benar‑benar global dan lintas bahasa.
Spanyol, Portugis, dan Arab menjadi tiga bahasa non‑Inggris dengan jumlah pengguna terbanyak di ChatGPT saat ini.
Bahasa yang sebelumnya kurang terwakili, seperti Uzbek, Kazakh, dan Burmese, justru mencatat lonjakan pangsa pengguna paling tajam sejak Juli 2023, sehingga menjadi kelompok bahasa dengan pertumbuhan tercepat di atas 1 juta pengguna.
Wilayah Mana yang Tumbuh Paling Cepat?
Dari sisi geografis, pertumbuhan pengguna aktif mingguan tercatat di hampir semua benua sejak Juli 2023, dengan kenaikan relatif paling tajam justru terjadi di Afrika dan Asia.
Menariknya, negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang lebih rendah mengalami pertumbuhan relatif tercepat, seiring dengan akses berbiaya rendah melalui paket gratis dan paket Go yang mempermudah pengguna di luar negara maju.
Bagaimana Kondisi Adopsi AI di Indonesia?
Survei Global Workforce Hopes and Fears 2025 dari PwC turut menyoroti kondisi di Indonesia, dengan melibatkan ratusan responden pekerja dari berbagai sektor.
Pekerja yang memakai AI generatif setiap hari melaporkan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pengguna sesekali, mulai dari produktivitas yang meningkat hingga rasa lebih optimis terhadap prospek karier dan penghasilan.
Meski begitu, tingkat penggunaan harian AI di Indonesia masih tergolong rendah dan belum secepat yang diharapkan. Kesenjangan akses pelatihan juga masih terasa, terutama antara pekerja non‑manajer yang jarang mendapat program upskilling dan eksekutif senior yang lebih sering tersentuh oleh inisiatif pelatihan.
Apakah Semua Pekerja Menyambut AI dengan Antusias?
Jawabannya, tidak semua. Mengutip analisis World Economic Forum, terdapat kesenjangan persepsi antara pemimpin perusahaan yang bersemangat mempercepat adopsi AI dan sebagian pekerjanya yang justru merasa terancam. Studi tersebut membagi kesiapan pekerja terhadap AI menjadi 5 kategori.
1. Antusias
Pekerja yang termasuk dalam kategori ini melihat AI sebagai peluang besar untuk mempercepat pekerjaan dan membuka jalur karier baru. Mereka sering menjadi orang-orang internal yang aktif mencoba tools dan membagikan cara pakainya kepada rekan kerja.
2. Penasaran
Kategori satu ini tertarik pada AI, tetapi masih pada tahap eksplorasi awal. Mereka butuh contoh konkret dan panduan praktis agar lebih percaya diri dalam menerapkan AI ke dalam alur kerja sehari-hari.
3. Berhati‑hati
Pekerja yang berhati‑hati dan mengakui potensi manfaat AI, tetapi berfokus pada risiko seperti keamanan data, akurasi, serta dampaknya terhadap tanggung jawab pekerjaan. Mereka baru akan menggunakan AI secara rutin setelah ada kebijakan yang jelas dan pelatihan resmi dari perusahaan.
4. Skeptis
Kelompok skeptis meragukan klaim manfaat AI dan menilai hype yang sering kali berlebihan. Mereka cenderung mempertanyakan apakah AI benar‑benar lebih efisien dibandingkan dengan cara kerja manual yang sudah mereka kuasai.
5. Menolak
Pekerja yang menolak biasanya takut kehilangan pekerjaan atau merasa perannya terancam jika AI diadopsi secara lebih agresif. Mereka cenderung menghindari pelatihan dan enggan mencoba tools AI yang disediakan perusahaan.
Tidak sedikit organisasi atau perusahaan yang pekerjanya tampak patuh mengikuti arahan penggunaan AI di hadapan atasan, misalnya dengan menghadiri sosialisasi atau membuat akun. Namun, di belakangnya mereka tetap ragu, membatasi penggunaan, atau bahkan menghindari AI karena belum yakin akan manfaat, risiko, dan dampaknya terhadap masa depan karier mereka.
Baca juga: Benarkah Normal SEO Sudah Cukup Untuk AI Overview?
Jadi, Bagaimana Sikap yang Paling Masuk Akal?
AI sudah menjadi bagian dari keseharian jutaan orang di berbagai negara, dengan latar belakang bahasa dan tingkat pendapatan yang beragam.
Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar memperkenalkan AI kepada lebih banyak orang, tetapi memastikan manfaatnya benar‑benar dirasakan secara merata. Baik perusahaan besar maupun pekerja individu masih tertinggal dari sisi akses dan keterampilan.
Oleh karena itu, jika bisnis Anda membutuhkan strategi digital dan jasa AI SEO agar tidak tertinggal dalam tren adopsi AI ini, tim Crawl Compass siap membantu. Hubungi tim kami sekarang →



